Road To College Life (Pt. I) : Melewati SNMPTN

There will be two parts of Road To College Life posts. Both of which will be written in Indonesian because I dedicate them to Indonesian high school students, especially those who study in Medan, who will have a difficult time to decide where to go next. I don’t post tips and tricks of how to pass the test. Here, I merely share my experience. Your job is to take notes of what matters to you and take some good points that might be useful for you.

“Semoga kita semua lulus undangan.” Sebuah basa-basi yang paling hits di bulan-bulan menjelang SNMPTN. Nyatanya, aku tidak pernah sekalipun melihat sebuah sekolah yang mendapatkan hasil bahwa anak didiknya lulus 100%, sekolah paling favorit pun tidak bisa.

Merupakan waktu yang sulit bagiku untuk menentukan pilihan universitas mana dan jurusan apa yang harus aku pilih. Sebelum masuk hari-hari dimulainya pendaftaran SNMPTN banyak pelajar SMA tahun akhir yang mengikuti tes MBTI, tes psikologi, dan semacamnya hanya untuk menentukan jurusan yang sesuai dengan karakter. Jika aku kenang itu, aku berkata kepada diri sendiri, “Segitu bingungnya aku karena SNMPTN, hingga seakan-akan tidak mengenal diri sendiri.”

Singkat cerita, karena aku sejak awal ingin menjadi dokter, namun tidak diperbolehkan untuk kuliah di luar daerah, aku memilih Pendidikan Dokter Universitas Sumatera Utara sebagai pilihan pertama dan Teknologi Informasi di universitas yang sama. Pada saat pendaftaran, aku hanya menyertakan dua sertifikat yang aku tahu tidak akan berpengaruh karena tidak ada hubungannya dengan IPA dan bukan dari kejuaraan yang mencakup area yang luas, ditambah satu sertifikat TOEFL.

Dari sekolahku ada cukup banyak pendaftar yang memilih Pendidikan Dokter di Universitas Sumatra Utara.

Pada saat survey pertama di sekolahku, ada sekitar seratusan lebih pendaftar yang ingin memilih jurusan tersebut di universitas tersebut. Aku adalah salah satunya. Pada survey berikutnya, peminat berkurang hingga sembilan puluhan pelajar saja.

Selama menunggu pengumuman SNMPTN, aku sudah merasa bahwa aku tidak akan lulus. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa bahwa menjadi seorang dokter bukanlah bagian dari bakat dan takdirku. Seorang temanku pun pernah berkata, “Sil, kau gak gitu cocok jadi dokter. Kau lebih cocok di bagian ekonomi, komputer, atau politik aja sekalian.”

Jangan pedulikan apa kata orang.

Ya, memang bukan seperti itu. Tapi pernyataan temanku itu terasa seperti sudah bersemayam di dalam diriku sejak lama, seperti beruang tidur yang dibangunkan oleh rasa lapar.

Pengumuman pun seakan-akan menyetujui pernyataan kekalahan tersebut.

Sore itu, website SNMPTN diserang bertubi-tubi oleh para pelajar. Aku sebagai salah satu pengakses mengalami error saat mengakses diakibatkan terlalu banyak yang mencoba masuk ke website tersebut.
Beberapa teman-teman sekelasku telah mendapatkan hasil mereka. Yang mendapatkan hasil yang memuaskan dapat dihitung dengan jari. Aku lupa pastinya berapa yang diterima, tapi seingatku hanya perlu jari tangan untuk menghitungnya.

Aku bukan salah satunya.

Sebagai pendaftar yang tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, mengklik refresh sudah merupakan tindakan refleks, berharap pada percobaan memuat halaman yang berikutnya hasil akan berubah. Bukan hanya aku yang melakukan hal tersebut.
Mamaku sangat kecewa waktu itu. Yang dapat kukatakan hanya: “Ini cuma SNMPTN, ma. Banyak faktor untung-untungannya. Nggak masalah, loh, ma. Nanti SBMPTN, kakak pasti luluslah.” Karena mamaku tetap masih merasa kecewa, kukatakan lagi: “Bahkan yang nggak pernah belajar pun bisa lulus. Memang bukan rezeki kakak. SBMPTN pasti kakak lulus.”

 

Setelah berdiam diri dan mengevaluasi diri, aku sadar bahwa tujuan belajarku salah. Sebagai pelajar, seharusnya nilai bagus hanyalah bonus, yang harus sepenuhnya saya dapatkan adalah ilmunya. Aku tahu kalimatku itu tampak seperti omong kosong, tapi memang itulah harusnya. Realitalah yang memaksa kita untuk membalikkan posisi nilai dan ilmu sehingga pelajar belajar dengan niat yang lebih kepada mendapatkan nilai bagus dibanding menguasai ilmunya.

Kembali ke topik SNMPTN. Setelah itu, kabar-kabar pun menyebar. Banyak yang tidak diduga akan lulus malah lulus dan sebaliknya. Pasti setiap tahun akan ditemukan hal-hal seperti itu.

Jika kamu adalah peserta SNMPTN dan kamu membaca ini, ketahuilah bahwa tidak lulus jalur SNMPTN tidak sesakit ditolak lewat jalur SBMPTN.

Jalur SBMPTN akan kubahas di post selanjutnya. Semoga bukan demi lulus di jalur SNMPTN dan tidak perlu repot-repot belajar lagi kamu merelakan jurusan yang sudah sejak lama di hatimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s